duduk

10 Mar

kata ini ternyata menjadi sedemikian populer saat ini, saat dimana 9 april 2014 nanti akan diadakan pemilu legislatif. pemiu yang akan mendudukkan – dari asal kata duduk – wakil-wakil rakyat yang terhormat di DPRD, DPR, dan DPD. di setiap tikungan jalan dan tempat lain yang eye catching, sudah bertebaran foto para calon legislatif dengan tampang senyum yang dipaksakan.
duduk juga sedemikian penting di lembaga-lembaga birokrasi ataupun lembaga swasta yang ada kaitannya dengan struktur kepemimpinan. konotasinya adalah kata duduk yang diawali dengan ke dan akhiran an, kedudukan. siapa yang memiliki kedudukan dalam sebuah lembaga birokrasi negri atau swasta, sudah pasti ia adalah orang pilihan dan orang penting. artinya juga, ia mesti dihormati, diberikan fasilitas rumah, fasilitas mobil , tunjangan komunikasi, dan tunjangan lainnya yang sederet ukur dengan resikonya di kedudukan yang diampunya.
duduk, menjadi kata yang untuk bisa meraihnya butuh perjuangan keras dan pengorbanan. tidak ada anugerah duduk yang diraih seseorang dengan berleha-leha. jika bisa pun, saat ia bisa membangun “tempat” duduk ya sendiri, ia mesti bekerja keras mempertahankan supaya “tempat” duduk yang ia miliki tersebut tetap bisa berdiri tegak menopang kedudukannya, tidak roboh dan tumbang.
demikian juga dengan duduk di sebuah angkutan umum yang rutenya luar biasa padatnya. mendapat tempat duduk, di sebuah angkutan umum yang murah dan terjangkau, menjadi barang langka. previlege untuk bisa mendapatkannya anda harus ekstra keras dengan sabar menunggu dan pandai membaca apakah orang yang anda tunggui tempat duduk-nya turun di halte terdekat, atau anda memang berhak mendapatkannya karena masuk dalam kategori : wanita hamil, menggendong anak kecil, sakit yang berakibat tidak bisa tahan lama berdiri, atau tua renta.
duduk juga bisa menjadi sebuah penghormatan saat anda bertandang ke rumah orang lain. jelas, jika anda “bukan siapa-siapa”, apalagi seorang debt collector, tawaran untuk dipersilakan duduk akan menjadi barang langka.
duduk juga menjadi sebuah lambang egaliter, lambang penguasaan, jika ia berafiliasi dengan me dan i, menjadi “menduduki” atau dengan pe dan kan, menjadi “pendudukkan”. sebuah kata negatif yang berkonotasi invasi dan imperialis di jaman dulu.
terakhir, duduk bisa berubah menjadi sebuah malapetaka. ya, jika kata “duduk” bergandengan tangan erat dengan awalan “ter”. saya sangat berharap kita semua dijauhkan dari kombinasi awalan ter dengan kata “duduk” ini. lihaglah rangkaian kalimat ini :
“anak itu jatuh terduduk dari sepeda yang dinaikinya”
“bapak itu terduduk saat ia divonis sembilan tahun oleh pengadilan”
“setelah sekian lama berkutat dengan hutang, pemilik perusahaan itu akhirnya terduduk dan bangkrut”

sandaran tangan

27 Jan

Antrian check-in di counter perusahaan penerbangan low cost carrier saat saya baru tiba, sudah tidak panjang. pagi ini tripku adalah tujuan Batam.
Saat sudah di depan petugas check-in, saya mengajukan permintaan untuk duduk di posisi agak depan. Saya sudah hapal, kalau proses penurunan penumpang di Bandara Hang Nadim hanya akan menggunakan garbarata. Dan itu pasti dipasang hanya di pintu depan. Karenanya, proses turun pesawat jika ditempatkan di posisi duduk agak di belakang apalagi di belakang sekali, akan makan waktu. Dan ini bisa mengurangi kesegeraan perjumpaanku dengan keluarga tercinta karena masih harus menempuh rute naik taksi ke Punggur dan naik speed boat ke Tanjung Uban yang hanya ada interval waktu tiap setengah jam. Hitungan rutinku, dengan ketibaan pesawat pagi dari Jakarta ini, saya bisa menaiki speed boat jam 08:30. dan artinya, jam 09:00 sudah bisa nyampe rumah.
Permintaan saya untuk dapat seat agak di depan kemudian direspon oleh petugas check-in counter dengan menyatakan bahwa seat depan hanya tersisa di posisi tengah. Maksudnya posisi diapit, bukan di jendela atau gang. Posisi seat ini bukanlah seat favorit, karena umumnya penumpang akan merequest posisi seat di gang atau di jendela. Alasannya mungkin sederhana saja, di gang supaya gampang keluar masuk toilet, apalagi buat yang “beser” atau biar cepat turun. Sedangkan posisi di jendela mungkin biar bisa liat pemandangan atau biar nggak terganggu keluar masuknya penumpang di row dia yang hendak ke toilet, karena bisa saja dia mau tidur selama satu setengah jam perjalanan.
Saya kemudian meng-iyakan posisi seat di-apit tersebut. seatnya berkode B atau E, dan itu nggak masalah buat saya. Ternyata saya kemudian mendapatkan satu alasan tambahan kenapa posisi seat di-apit atau di kode B atau E itu bukan seat favorit. Alasan itu adalah ketidak jelasan siapa pemilik handrest atau sandaran tangan yang ada di kanan kirinya. hahahaha.. ini alasan yang jelas mengada-ada.
Tapi itu benar saja rasanya jika hak untuk merasakan nyaman bagi sesama penumpang itu juga berlaku bagi pemilik seat di-apit. Pastinya penumpang semacam saya juga rasanya malas saja kalau harus menempatkan posisi kedua tangan di-apit karena handrest sudah “dibooking” juga oleh penumpang kiri kanan saya yang kebetulan ukuran body-nya tidak kurus. Saya merasakan seperti anak manis yang diapit oleh dua raksasa yang berebut ruang kelegaan dan kenyamanan. Untungnya, saya sering mendapatkan posisi di-apit itu dengan keleluasaan menempatkan kedua tangan saya di hand-rest karena kebetulan tetangga kanan kiri saya cukup berempati. Saya yakin mereka berpikir, “kasihan penumpang sebelah saya, sudahlah susah menikmati pemandangan, keluar masuk mau ke toilet pun susah. ” :)
Kesamaannya menempatkan tangan di handrest itu seperti menempatkan posisi mobil di jalan depan rumah yang kebetulan tidak ada garasinya. Masalahnya bukan mobil kita, tapi mobil temen kita yang kebetulan bertamu di rumah kita. kalau ditempatkan di posisi depan rumah tetangga, saya jamin ia akan bersungut-sungut dan menggerutu tidak senang.
Kesamaannya lagi di lingkungan kerja adalah jika institusi dimana kita bekerja sudah mendapatkan hak remunerasi plus tunjangan kinerja plus premi yang belakangan ini rajin mengucur, sementara instansi samping kanan kiri kita belum. Pastinya mereka akan bersungut-sungut dan menggerutu karena betapa mereka juga sebenarnya berhak mendapatkan hal yang sama.
Berawal dari handrest tadi, bergeser ke bertetanggaan, intinya bisa saja hal-hal yang bisa menimbulkan menggerutu dan bersungut-sungut bisa dikomunikasikan dengan baik.
Posisi handrest tadi, saya biasanya berbagi dengan penumpang kanan kiri saya yang berporsi besar dengan mengambil bagian “agak depan”, sementara biar dia mengambil di bagian belakang. Bersinggungan dikit tidak apalah, asal bukan muhrim.
Posisi tetangga yang ketempatan mobil teman yang bertamu ke rumah kita, biasanya saya akan kulonuwun, permisi dan minta maaf atau membiarkan tamu saya masuk dulu ke rumah saya  dan meminta kunci mobilnya untuk saya tempatkan di tempat yang agak longgar dan pastinya agak jauh dari rumah saya.
Posisi di lingkungan kerja beda institusi ini yang bikin saya bingung. Walhasil, saya hanya bisa berdo’a, mudah-mudahan tetangga institusi ini tidak rewel dengan bersungut-sungut dan menggerutu apalagi sampai “ngampleng”, sementara kita sudah memasang muka manis maksimal.

piss..

dimana-mana barokah

3 Jan

Selama kurang lebih satu setengah tahun lalu di kota kabupaten yang di tahun 2001 pernah terjadi rusuh antar suku, saya banyak menemukan tempat usaha yang punya nama khas. Sepanjang saya menyusuri jalan Soeprapto, jalan Ahmad Yani dan jalan Gatot Subroto, dan jalan Baamang ke arah bandara, ada saja nyempil tempat usaha dengan nama khas, Barokah. Nama khas ini juga sudah sering saya temui sebagai nama tempat usaha pada saat penempatan di Tanjung Perak, Surabaya.
Ini beneran, sepintas seperti nggak ada kreatifnya sama sekali. Nggak warung makan tenda, nggak truk pengangkut barang seken atau rombeng, penginapan, tempat jualan vcd, pendeknya semua jenis usaha diberi label “barokah”. Dan lebih sip-nya lagi, si owner tempat usaha dengan label nama itu ternyata dari satu suku yang sama, saudara saya di seberang jembatan suramadu. Suku yang di tahun yang saya sebutkan di awal itu menjadi pihak yang “terpaksa” terusir dari kota kabupaten Kotawaringin Timur .
Dan sekarang, saat saya sudah mutasi ke Tanjung Priok, label nama itu ternyata tetap ada. Dan masih di sekitar kegiatan usaha yang sama, warung makan tenda, truk pengangkut barang, penginapan, tempat jualan vcd.
Tentu saja pemilihan nama itu bukan suatu kebetulan, dan lebih kepada sebagai sebuah harapan atau do’a. Diberi nama “barokah” mudah-mudahan segala hasil usaha yang diperolehnya juga menjadi barokah.
Dilihat dari KBBI, sebenernya nggak ada rujukan kata “barokah” di bahasa Indonesia. Yang ada kata “berkah” yang diterjemahkan sebagai “karunia Tuhan yg mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia; berkat”. Jadi kata “barokah” sebenernya masih nyuplik bahasa arab aslinya yang di-Indonesiakan menjadi “berkah”.
Klop, pastinya semua orang maunya segala usahanya lewat dunia perniagaan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan dirinya, keluarganya, orang disekitarnya, dan tentu saja bagi kehidupan di akhirat kelak.

imajinasi kardus ala spongebob

20 Dec

Di sebuah episode tayangan yang sudah lama berlalu , spongebob bersama sahabatnya Patrick, berpetualang dalam sebuah kotak kardus. Judul episode ini nyentrik, “idiot box”, dimana petualangan keduanya diawali saat tibanya paket pesanan mereka, televise yang dikemas dalam kardus besar. Setelah kiriman itu diterima dan ditandatangani receipt-nya, alih-alih menurunkan dan menyimpan dengan baik televisinya, si Spongebob malah membuangnya dan justru memanfaatkan kardus besar pembungkus tivi itu sambil bersorak horay. Tindakan stupid yang nggak masuk logika. Tindakan mereka berdua tentu saja dibawah sorotan mata yang tajam dari si tetangga sirik, Squid.
Kegilaan mereka berdua, Spongebob dan Petrik, dimulai. Keduanya mengambil lokasi di sekitar rumah dan nyemplung kedalam kardus bekas tivi tadi.
“kau sudah siap, petrik? Kita akan memulai perjalanan seru ini. Mulailah pejamkan mata dan gunakan imajinasi…”, demikian komando yang terucap dari spongebob saat kardus sudah tertutup rapat dan hanya kegelapan yang menyelimuti.
“aku siap..” , jawab petrik bersemangat
Benar-benar sebuah kegilaan namanya bagi mereka berdua, hingga rupanya sangat mengganggu sang tetangga, squid. Dengan rasa penasaran karena kegaduhan dan kehebohan yang ditimbulkan, ia membuka kardus itu sambil berteriak : “apa yang kalian lakukan?”
“kau mau bergabung dengan kami squid?” ajak spongebob. Tentu saja squid menolak dengan ego yang tinggi. Demikian terjadi terus menerus hingga diapun terbujuk untuk turut serta.
Tapi apa yang terjadi saat squid ikut bertingkah seperti spongebob dan petrik? Nothing happen. Squid tidak bisa menikmati kotak kardus yang sempit dan gelap serta menyesakkan itu seperti layaknya spongebob dan petrik menikmati.
Episode ini seperti menggelitik saya, yang tentu saja tidak ingin mencari kardus besar untuk kemudian nyemplung kedalamnya sambil berfantasi. Saya cuma mengambil analogi sederhana dari kardus yang bisa diibaratkan sebuah kondisi atau keadaan dimana saya saat ini berada. Tentu saja tempat saya berada saat ini terang benderang dipenuhi cahaya dan riuh rendah dipenuhi keramaian orang. Saya berada didalam kardus ini bersama teman-teman yang lainnya.
Saya berfantasi dan berandai-andai secara individual dengan satu tujuan meramaikan suasana “kardus” ini dengan “cara saya sendiri” yang mudah-mudahan tidak mengganggu tetangga kanan kiri karena euphoria “imajinasi kardus” yang saya create sendiri. Tidak gelap dan pengap, tapi terang benderang dan mudah-mudahan menyenangkan.
“kardus” saya analogikan sebagai sebuah kondisi atau keadaan dimana saya berada – bukan trapped- dalam kondisi “wajib militer” – meminjam istilah senior. Kondisi dan keadaan yang jika saya masih ingin berada di “kardus” ini, saya mesti beradaptasi dan menyesuaikan diri. Tetap riang, nrimo dan kerjakan bagian saya. Mudah-mudahan juga tetap tidak gelap dan pengap, tapi terang-benderang dan mudah-mudahan menyenangkan.
“kardus” menurut versi spongebob adalah hanya sarana pencapaian kebahagiaannya. Cara yang dia buat simple saja, “close your eyes, and use your imajination..” ( sambil membentangkan tangan meniru lengkung pelangi )
Yup, pesan sederhana dari Stephen Hillenburg yang bisa saya tangkap adalah bahagia itu kita yang buat.

are you ready..

bersabar di saat musibah dan bersyukur di saat bahagia

3 Sep

“putra njenengan berapa pak?” tanyaku dalam perjalanan naik ojek ke terminal busway Tanjung Priok. “delapan pak”, jawab bapak tukang ojek yang membawaku itu. Sayangnya aku tidak bisa melihat raut muka wajahnya, yang dari nada dan tekanan suaranya saat menyebut jumlah anaknya itu terdengar bangga.
“semua sudah bekerja pak?” tanyaku lagi, dan dijawab “sudah pak, dan sudah pada berkeluarga”. “yang paling kecil aja yang belum nikah dan masih pengin kuliah”, terusnya lagi.
“dari hasil ngojek ini saja pak?”, tanyaku lagi meneruskan jawabannya bahwa ia bisa dengan lancar menafkahi keluarganya. “ya pak, alhamdulillah..” jawabnya bangga.
“ya saya mangkal di depan kantor itu saja pak sejak puluhan tahun lalu,” tambahnya lagi.
“Masya Alloh “, gumamku dalam hati..
Aku tidak bisa bertanya lebih jauh lagi karena sudah sampai di terminal busway. Aku merogoh uang sebagai bayaran ongkos ojek. Saat turun itu sebenarnya aku sudah menanyakan namanya, tapi saat menuangkannya dalam tulisan ini, aku lupa.
Selanjutnya, sepanjang perjalanan di busway itu aku hanya merenungi percakapan singkat dengan bapak tukang ojek tadi. Betapa mesti bersyukurnya aku dengan keadaanku saat ini. Subhanalloh..

Lain waktu..
“putra kulo isin nyebutaken bapakne ngasto nopo wektu ditangleti rencange pak..” ( anak saya malu ngomong apa kerjaan bapanya waktu ditanya temennya pak..), kata pak Gino ke aku di selasar kanan masjid. Percakapan sebelumnya , diawali dengan bahasa Indonesia, tapi kemudian berganti bahasa jawa setelah pak Gino tau asalku dari Tegal sedangkan beliau kelahiran Jogja.
“lho kenapa mesti malu.. mestinya kan dia bangga pak”, jawabku.
“mungkin dia bingung mau bilang ke temennya kalo bapaknya cuma tukang sapu di kantor bea cukai, tapi kok bisa punya rumah. Padahal rumah saya ya sederhana saja pak, yang penting ada tempat ngiyup dan jualan kelontong kecil-kecilan buat istri nambah-nambah uang belanja”, lanjut pak Gino lagi.
“ya mungkin juga pak”, timpalku.
Pak Gino, sosok orang tua yang “hanya” seorang cleaning service di kantor bea cukai di tanjung priok, sudah pasti pembawaannya sederhana saja. Yang penting buatnya lantai bersih dan ruangan yang menjadi wilayah tanggung jawabnya juga rapi dan bersih. Kerjaan yang sudah ditekuninya , juga dari puluhan tahun yang lalu. Sisanya, beliau tetap berharap gaji bulanan dan uang makan yang alhamdulillah menurutnya saat ini bisa berjumlah dua jutaan.
“saya bisa nyekolahkan anak-anak saya ya dari nyapu-nyapu ini pak”, tambahnya lagi dengan raut muka bangga.
Masya Alloh.. dua teladan sederhana di depan mataku adalah sosok nyata, bahwa tidak ada alasan khawatir kecukupan urusan dunia. Semua sudah ditakar dan diurus sesuai dengan porsinya masing-masing. Aku menyimak bahwa khawatir dan takut itu lumrah, dan karena memang demikian adanya sifat manusia. Sisanya adalah bersabar di saat musibah dan bersyukur di saat bahagia.
Tukang ojek depan kantor dan pak Gino yang CS di kantor itu aku yakin pernah merasakan khawatir dan takut akan kecukupan penghasilannya bagi nafkah keluarganya. Aku yakin juga masa-masa sulit pernah melewati mereka.
Tapi keduanya tetap eksis dan bersahaja, dan kuncinya sekali lagi adalah bersabar di saat musibah dan bersyukur di saat bahagia.

satu setengah tahun yang berarti

28 Jul

setahun setengah penempatanku di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. penempatan yang diawali di pertengahan Desember 2011 ini aku rasakan banyak membuatku belajar. ya, sejatinya dimanapun aku ditempatkan, adalah layaknya sebuah sekolah dimana aku menjadi muridnya. murid yang semestinya patuh kepada guru yang ada yaitu bumi yang aku pijak lengkap dengan segenap adat kebiasaannya serta langit yang aku junjung dengan segenap kondisi alam yang menaunginya.
Sampit, nama yang sangat populer, dengan konotasi negatif akibat kerusuhan antar suku yang terjadi di tahun 2001, letaknya di tepi sungai Mentaya. nama Sampit sendiri tidak aku temui jejaknya di sebuah nama kecamatan atau nama desa / kelurahan sekalipun. yang jelas, nama kabupaten dimana nama Sampit ini ada adalah di Kotawaringin Timur dengan akronim Kotim, sebagai bagian dari Provinsi Kalimantan Tengah.
kota kabupaten ini memiliki fasilitas akses keluar masuk orang dalam rangka migrasi yang cukup lengkap dimana tersedia akses penerbangan langsung dari dan ke Surabaya, Semarang, dan Jakarta termasuk penerbangan ke sesama kota di wilayah Kalimantan yaitu Pangkalan Bun, Ketapang, Pontianak, Banjarmasin, dan Kota Baru. penerbangan ke tempat tujuan-tujuan tadi dilayani oleh dua maskapai saja yaitu Merpati dan Kalstar. demikian juga dengan fasilitas pelabuhan penumpang yang melayani pelayaran ke Surabaya dan Semarang yang dilayani oleh Pelni dan Dharma Lautan Nusantara.
kondisi perkembangan perekonomian yang sedang menggeliat dengan dibuka luasnya perkebunan sawit dan pabrik pengolahannya, mengakibatkan migrasi pekerja yang lumayan masif dari Jawa dan Sumatra. tentu saja migrasi ini didominasi oleh penduduk dari pulau terpadat di indonesia, Jawa, yang mencoba peruntungannya di kota kabupaten yang tengah berkembang sesuai dengan mottonya : bergerak cepat membangun Kotim.
satu setengah tahun sejak pertengahan Desember 2011 aku bertugas di kota yang kalau aku ceritakan kepada teman-temanku bahwa ada bandara yang bisa didarati pesawat Boeing 737 seri 300 yang dioperasikan oleh Kalstar dan Merpati , komentar mereka adalah : oh ya? kota yang seperti dibangun di atas papan datar dan dibuat garis kotak-kotak menjadi blok-blok. akibatnya, jarak tempuh rumah dinas tempat tinggalku ke kantor yang hanya sekitar dua kilometer mesti melewati lima traffic light.
kota yang tidak susah mencari makanan khas jawa timur seperti rawon, penyetan, pecel, bebek goreng, soto ayam dan lainnya, karena memang di kota inilah banyak warga Banyuwangi, Madiun, Pacitan dan sebagian warga Jawa Timur lainnya menggantungkan peruntungan nasib menjual makanan.
kota inilah yang di jalan depan rumah dinas tempat kami tinggal tidak pernah absen suara deru knalpot sepeda motor yang sudah di-oprek memekakkan telinga, bahkan sampai jam istirahat kami. akan hal ini, pernah kepikiran melemparkan ketapel atau batu atau apapun ke pengendara motor yang entah telinganya bolot atau apa, sampai dia jatuh kesungkur, atau apapun yang bikin dia kapok, atau teman-temannya kapok dan nggak bakalan mondar-mandir lagi di jalan raya itu.
kota ini, akhirnya harus aku tinggalkan setelah satu setengah tahun menyusurinya. kota yang aku bisa menemukan segelintir orang muda yang berjuang menegakkan kembali runtuhnya lembaga pendidikan Muhammadiyah karena terbakar. kota yang terpaksa harus dikeruk hasil buminya berupa hasil tambangnya untuk dijual ke China dengan mendapatkan ganti PAD dan bea keluar. kota yang terpaksa atau senang hati hutannya digusur dan digantikan dengan pepohonan sawit yang menghasilkan minyak kelapa sawit dan turunannya yang juga bisa menyumbang PAD dan bea keluar. ia juga bisa bak gula-gula yang menyedot datangnya orang-orang dari jawa yang sudah penuh sesak untuk menjadi pekerja kebun sawit.
kota ini mudah-mudahan akan semakin berkembang dengan tanpa ada konflik suku atau penyebab apapun. niscaya suatu ketika aku mengunjunginya kembali akan tertegun karena perubahan positifnya.
semoga teman-temanku, sahabat-sahabatku, yang selama satu setengah tahun ini menemani, menyemangati, mendukungku, dan mendo’akanku selalu tetap dalam lindungan Alloh subhanahu wata’ala.. aamiin..
selamat tinggal Sampit.. selamat tinggal Sungai Mentaya.. sampai ketemu di lain kesempatan..

semangat positif si Banjar

9 Jun

terhitung awal desember lalu, aku telah melepas atas nama kepentingan dinas seorang rekan kerjaku. ya, aku melepasnya karena secara dinas, masa kontrak kerjanya telah usai, ia memasuki masa purnabhakti alias pensiun. ia, sejatinya adalah salah satu ( dan satu-satunya ) staf andalanku di unit dibawah pimpinanku. tapi, sejatinya juga, ia bukan bawahanku. ia semata- mata menjadi bawahanku hanya atas nama dinas, sisanya ia adalah rekan kerja dan bapak ( seolah aku merindukan sosok bapak yang telah meninggalkanku di pertengahan tahun 2010 lalu ).
dari garis keturunan, ia adalah bersuku Banjar. dan saat pertama kali bertemu, dimana namanya direkomendasikan sangat kuat oleh pendahuluku, aku berpikiran bahwa ia sebenarnya lebih tepat dilahirkan sebagai keturunan suku Jawa, saat meskipun saat ia berkata-kata. logat banjarnya sangatlah kental.
tapi , sepanjang pergaulanku selama sekian lama berdinas di Sampit, aku tetap berkeyakinan bahwa semestinyalah ia lahir sebagai keturunan suku Jawa.
saat awal Desember tahun 2012 itulah, ia telah melepas segala kewajiban dinas yang mengikutinya selama sekitar 30 tahun ini. dan di suatu kesempatan acara kecil pelepasannya, kata-kata yang diucapkannya tidak terbata dan tegas bahwa ia sudah siap memasuki masa purnabhakti. praktis interaksiku dengannya dalam rangka dinas kurang setahun genap.
sejatinya, ia tidak pernah purnabhakti, dan tetap menyibukkan diri dengan bhaktinya dalam bentuk lain dimana ia telah mempersiapkan itu sebelum hari H itu tiba. ada kesibukkan yang selanjutnya ia intens lakukan yaitu membuka usaha laundry dan klub sehat herbalife yang selama ini juga digelutinya bersama istri tercintanya. ruko kecil yang selama ini sudah ada, kini berjejer menjadi tiga lapak dimana satu pintu disewakan. ia tidak purnabhakti dan tetap saja berkesibukan sepanjang hari mengelola usaha sederhana itu.
dan aku, jika membutuhkan semangat postif yang ada padanya dan istrinya, aku akan menyambangi ruko kecil sederhana itu. semangat dan energi positif yang ada padanya dan istrinya seolah tidak pernah padam apalagi dengan hanya sepenggal kata “pensiun”. aku menyambangi lapak sederhana mereka sekedar mengingatkan kembali, bahwa suatu masa aku juga akan menjalani masa itu, dan semestinya juga aku tidak perlu terpaku kepada masa cut-off yang bernama “pensiun”. di ruko sederhana ini, aku mendapati semangat positif selama aku masih menjalani penugasan di Sampit, Kotawaringin Timur.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 900 other followers