malam yang panjang

9 Dec

malam itu dirundung pilu, diserang duka, diteriaki rintihan rindu yang berubah menjadi cekaman yang menggetarkan hati.

***

“sore ini latihan seperti biasa, kasih tau yang lain”, kataku tegas .”siap kak”, jawabnya tidak kalah tegas.

Siang itu sudah kuingatkan untuk latihan drumband sore. Di sore hari yang cerah itu tanpa firasat buruk sama sekali, malah firasat baiklah yang menyelimuti hati untuk melatih junior Genta Bintama seperti biasa. Hari itu dia, Aldy , lain dari biasanya. Lebih klemar-klemer. Entah kenapa begitu. Sama sekali tidak ada firasat buruk.

“jempolmu itu ngalangin stik-nya! Coba jempolmu dihiraukan, biarin stik-nya bergerak sendiri!”, perintahku sedikit dongkol tapi tetep sabar.

Hari itu niatnya aku dan Okta ingin melatih fisik para Mayor Junior, Dias dan Aldy. Tapi ada perintah lain dari senior yang mungkin dia lagi “dapet”, jadi kerjaannya marah saja. Dia menyuruh untuk latihan stik. Oke, kami turuti perintahnya.

17.45 setelah pemilihan kapten alat, semua anggota Drumband Genta Bintama aku bubarkan dan pulang ke rumah masing-masing. Tapi ternyata ada juniorku yang kehilangan kunci motornya. Ia bersama temannya termasuk Aldy bolak-balik kelas – parkiran hanya untuk mencari kunci tersebut. Reflek, aku bersama Arif yang baru saja dikerjain membantu mencari kunci.

18.15 lewat atau sehabis azan, kunci motor yang hilang itu tidak juga ditemukan, terpaksa kami mendorong motornya. Saat itulah Aldy menyalipku dan teman-teman yang lain untuk pulang duluan. “duluan kak”, teriaknya sambil melewati kami. ”Oh iya-iya” reflek aku menjawab. Aku dan Arif melanjutkan misi kami untuk mengantarkan juniorku yang kehilangan kunci motornya ini sampai ke rumah.

18.45 aku sampai rumah dengan sebuah pertanyaan wajar dari Mama :”kok lama pulangnya Mas? Dari mana?”, dengan nada lembut yang menusuk langsung ke hati. “Tadi habis nganterin junior, dia kehilangan kunci motornya, jadi Aka ikutin dari belakang, si Arif yang dorong Ma..”. “Oh gitu, ya deh, mandi, sholat, makan sana”.

***

Malam itu, setelah makan , “dreeeet, dreeeet, dreeeet” BB memanggil. Eh, bang Yova, kubaca BBM-nya. Ke busung sekarang! Pikirku bang Yova motornya mogok atau sejenisnya di Busung, jadi minta tolong jemput. Itu pikirku. Kubalas BBM-nya, ngapain Bang? . Dia membalas, Cepat! . Semakin penasaran dan awalnya tidak yakin. Karena aku pikir pasti akan mengalami kesulitan mendapat ijin dari Mama untuk keluar lagi, apalagi ke Busung tanpa alasan yang jelas. Iseng-iseng, aku buka recent update.

Rasanya luar biasa, seperti tiba-tiba saja darahku berhenti mengalir bercampur-aduk dengan perasaan. Recent update dipenuhi dengan PM yang membuatku bingung, sedih, atau entah perasaan lain apa yang sejenis. Isi recent update yang ada : “Innalillahi wainnailaihi rajiuun”, “semoga tenang di sana Aldy Mulya Perdana”.

Aku langsung ganti baju, celana, pergi keluar rumah dengan satu alasan ke Mama : takziah ke temen di Busung. Saat aku keluar rumah, pas Dwiky dating. “Ka, ko dah tau?”. “udah, ayok gerak, aku sama ko e”, ujarku. “oke, cepat”, Dwiky merespon cepat. Kami pun pergi dengan izin Mama, di depan gerbang, ketemu Okta. “ayok Ta, langsung aja”, ujarku kepada Okta. Tanpa menjawab, Ia langsung memutar motornya, gaspol.

Ternyata sudah banyak yang menunggu di Makam Pahlawan untuk pergi bersama. Tapi karena sudah cemas, tidak sabar dan sedih, aku dan Okta pergi duluan ke Rumah Sakit Busung.

Sesampainya disana, yang ada hanya Kiki, saudara Aldy yang dibonceng, salah satu korban kecelakaan. Ia sendirian tanpa ada yang menemani selain para perawat. Dari situ kami baru tahu bahwa Aldy menabrak truk yang sedang berhenti. Kondisi Kiki cukup menghawatirkan. Aku menunggu menemani Kiki karena kasihan, ia selalu merintih kesakitan dengan memanggil ibunya. Aku tidak tega meninggalkannya sendiri. Aku dan Okta menunggunya sampai juniorku yang kelas 10 datang, aku meminta yang perempuan menemani Kiki dan yang laki-laki langsung pergi ke rumah Aldy. Gaspol.

Diperjalanan yang panjang dan gelap itu, aku dan okta saling mengumbar kesedihan, dan ketidakberuntungan Aldy. “ mak, sayang kali Ka” .” Dia itu asset kita wak. Dia badannya bagus, cocok buat paskib provinsi. Dia mayor junior kita wak, dia juga OSIS, Pramuka.. aaahhh tak taulah aku Ta” gumamku dengan penyesalan.

Setelah melewati jalan yang panjang, gelap, penuh dengan kesedihanyang mendalam, kami tiba di rumah alm. Aldy. Kedatangan kami disambut rintihan dan teriakan penyesalan dan kerinduan dari seorang ibu yang ditinggal anak tercintanya. Isak tangis pun mewarnai malam itu. banyak siswa dan siswi SMA 5 yang hadir di malam itu beserta guru. Mungkin memang begitu, orang baik pasti ditangisi kepergiannya.

Malam itu, yang jadi pembicaraan para siswa dengan guru tidak lain adalah kronologis kecelakaannya. Banyak versi yang bermunculan. Ada yang mengatakan truknya diberhentikan polisi secara mendadak, ada yang mengatakan truknya memang dari awal sudah berhenti disitu. Adapula yang mengaitkannya dengan hal-hal mistis. Entahlah, aku tidak ingin mudah mempercayai teori-teori mereka itu.

Sekitar jam 22.30 saya dan Okta bertolak pulang ke rumah. Dengan berat hati dan kesedihan yang masih membekas. Kami pacu motor dengan kecepatan sedang atas perintah Bu Icha. Kami mampir ke rumah sakit Busung kembali untuk mengetahui keadaan Kiki yang ternyata sudah dipindahkan dari IGD ke kamar lantai 3. Keadaannya masih sama, masih merintih , malah lebih agresif. Aku mengerti perasaannya. Pasti sakit sekali. Sakit jasmani dan rohani.

Malam yang gelap dan dipenuhi kesedihan itu kami tutup dengan pulang ke rumah masing-masing. Sungguh berat memejamkan mata. Masih terbayang jelas di benakku. Masih tidak habis fikir, karena sore itu aku dan okta masih melatihnya. Tidak habis fikir.

Malampun makin larut dan aku terbawa suasana kantuk yang membawaku kedalam mimpi.

***

Pagi tanggal 1 oktober atau sehari setelah alm. Aldy meninggal, kami membacakan surat Yasin bersama-sama di sekolah. Masih terlintas dibenakku tentangnya.

Setelah itu sekitar 160 orang yang terdiri dari pengurus OSIS, sebagian anggota paskib, anggota drumband, anggota kelas 10 MIA 3 yang merupakan kelas alm. Aldy dan beberapa senior kelas 12 beserta guru-guru bertolak dengan 4 bus ke rumah alm. Aldy.

Sampai di rumahnya, masih sama. Kami disambut teriakan rindu dari ibunya yang dari semalam tidak berhenti-henti. Sungguh pilu.

Disana kami tidak lama. Kami tidak sampai pemakamannya karena keluarga masih menunggu keluarga yang lain dari luar kota. Kami pun pulang ke sekolah dengan sebagian anak Busung tinggal di tempat sebagai perwakilan sekolah dalam proses pemakamannya yang diperkirakan akan berlangsung sore hari.

Di hari itu, aku memberikan penghormatan terakhir kepada alm. Aldy beserta rekan-rekan lainnya. Penghormatan yang tidak seberapa dengan kenangan baik yang telah ia goreskan di hati kami.

***

Terima kasih juniorku, terima kasih didikanku, terima kasih rekanku, terima kasih kawanku, terima kasih alm. Aldy Mulya Perdana. Semoga Alloh SWT menempatkanmu di sisinya. Aamiin ya robbal alamiin.

(ditulis oleh Agung Raka Sukanto mengenang alm. Aldy Mulya Perdana)

selamat jalan pak Shomad

9 Dec

Rasanya mengingat orang tua satu ini selalu membuatku terpaksa membuka ingatan yang lekat tentang masa penugasanku di Tanjung Perak di periode 2008 hingga 2011 dimana aku menghabiskan masa itu di komplek rumah dinas yang dijaganya.

Ya, ia hanya – sebagaimana pernah aku ceritakan di tulisanku sebelumnya- seorang petugas keamanan malam paruh waktu di komplek rumah dina injoko blok A. sisa waktu lainnya di siang hari, ia isi dengan mengantar – jemput anak sekolah dengan becak khas surabayanya, mengganti jam tidurnya , dan mengisi hal lain jika matanya ternyat tidak bisa kompromi untuk diajak tidur.

Sejak aku meninggalkan komplek injoko blok A itu, untuk menjalani penempatan di Sampit, Kalimantan Tengah, aku masih beberapa kali menyempatkan menemuinya di rumahnya di balik tembok komplek dinas. Rumah kayu yang berdiri di atas tanah yang bukan miliknya. Aku masih ingat ceritanya kalau pak shomad-lah salah satu personal garansinya atas berdirinya beberapa rumah non permanen di atas tanah milik orang lain itu. ia hanya berpesan kepada si pemilik tanah untuk memberikan tempo jika ia hendak mendirikan bangunan di atas tanah yang saat ini berdiri rumah mereka tersebut.

Sejak beberapa bulan lalu saat terakhir aku menyambanginya, ia memang sudah tidak lagi diberikan shift malam oleh pak RT, dan digantikan dengan shift siang. Aku tidak begitu tahu lagi bagaimana ia mengatur jadwal antara menjaga komplek dengan mengantar jemput anak sekolah yang sudah biasanya ia lakukan. Yang jelas, saat aku mengunjungi rumahnya terakhir, ia memang tidak sebugar dulu lagi. Kabarnya terkena sakit di ginjalnya. Kondisinya sudah agak payah, meskipun kondisi tambun badannya masih sediakala. Ia selalu haru jika aku menemuinya. Ia juga selalu berkenan mendoakan keselamatanku sepulang dari rumahnya.

Di pertengahan tahun 2014 ini ia, pak Shomad , satpam penjaga komplek rumah dinas Injoko blok A Surabaya itu dipanggil menghadap Alloh Sang Pencipta. Saat itu hari kerja, dan aku sedih tidak bisa mengantarkan pemakamannya. Dan aku hanya bisa mendo’akan, semoga Alloh SWT menerima segala amal baiknya dan menempatkannya di jannah. Aamiin..

duduk

10 Mar

kata ini ternyata menjadi sedemikian populer saat ini, saat dimana 9 april 2014 nanti akan diadakan pemilu legislatif. pemiu yang akan mendudukkan – dari asal kata duduk – wakil-wakil rakyat yang terhormat di DPRD, DPR, dan DPD. di setiap tikungan jalan dan tempat lain yang eye catching, sudah bertebaran foto para calon legislatif dengan tampang senyum yang dipaksakan.
duduk juga sedemikian penting di lembaga-lembaga birokrasi ataupun lembaga swasta yang ada kaitannya dengan struktur kepemimpinan. konotasinya adalah kata duduk yang diawali dengan ke dan akhiran an, kedudukan. siapa yang memiliki kedudukan dalam sebuah lembaga birokrasi negri atau swasta, sudah pasti ia adalah orang pilihan dan orang penting. artinya juga, ia mesti dihormati, diberikan fasilitas rumah, fasilitas mobil , tunjangan komunikasi, dan tunjangan lainnya yang sederet ukur dengan resikonya di kedudukan yang diampunya.
duduk, menjadi kata yang untuk bisa meraihnya butuh perjuangan keras dan pengorbanan. tidak ada anugerah duduk yang diraih seseorang dengan berleha-leha. jika bisa pun, saat ia bisa membangun “tempat” duduk ya sendiri, ia mesti bekerja keras mempertahankan supaya “tempat” duduk yang ia miliki tersebut tetap bisa berdiri tegak menopang kedudukannya, tidak roboh dan tumbang.
demikian juga dengan duduk di sebuah angkutan umum yang rutenya luar biasa padatnya. mendapat tempat duduk, di sebuah angkutan umum yang murah dan terjangkau, menjadi barang langka. previlege untuk bisa mendapatkannya anda harus ekstra keras dengan sabar menunggu dan pandai membaca apakah orang yang anda tunggui tempat duduk-nya turun di halte terdekat, atau anda memang berhak mendapatkannya karena masuk dalam kategori : wanita hamil, menggendong anak kecil, sakit yang berakibat tidak bisa tahan lama berdiri, atau tua renta.
duduk juga bisa menjadi sebuah penghormatan saat anda bertandang ke rumah orang lain. jelas, jika anda “bukan siapa-siapa”, apalagi seorang debt collector, tawaran untuk dipersilakan duduk akan menjadi barang langka.
duduk juga menjadi sebuah lambang egaliter, lambang penguasaan, jika ia berafiliasi dengan me dan i, menjadi “menduduki” atau dengan pe dan kan, menjadi “pendudukkan”. sebuah kata negatif yang berkonotasi invasi dan imperialis di jaman dulu.
terakhir, duduk bisa berubah menjadi sebuah malapetaka. ya, jika kata “duduk” bergandengan tangan erat dengan awalan “ter”. saya sangat berharap kita semua dijauhkan dari kombinasi awalan ter dengan kata “duduk” ini. lihaglah rangkaian kalimat ini :
“anak itu jatuh terduduk dari sepeda yang dinaikinya”
“bapak itu terduduk saat ia divonis sembilan tahun oleh pengadilan”
“setelah sekian lama berkutat dengan hutang, pemilik perusahaan itu akhirnya terduduk dan bangkrut”

sandaran tangan

27 Jan

Antrian check-in di counter perusahaan penerbangan low cost carrier saat saya baru tiba, sudah tidak panjang. pagi ini tripku adalah tujuan Batam.
Saat sudah di depan petugas check-in, saya mengajukan permintaan untuk duduk di posisi agak depan. Saya sudah hapal, kalau proses penurunan penumpang di Bandara Hang Nadim hanya akan menggunakan garbarata. Dan itu pasti dipasang hanya di pintu depan. Karenanya, proses turun pesawat jika ditempatkan di posisi duduk agak di belakang apalagi di belakang sekali, akan makan waktu. Dan ini bisa mengurangi kesegeraan perjumpaanku dengan keluarga tercinta karena masih harus menempuh rute naik taksi ke Punggur dan naik speed boat ke Tanjung Uban yang hanya ada interval waktu tiap setengah jam. Hitungan rutinku, dengan ketibaan pesawat pagi dari Jakarta ini, saya bisa menaiki speed boat jam 08:30. dan artinya, jam 09:00 sudah bisa nyampe rumah.
Permintaan saya untuk dapat seat agak di depan kemudian direspon oleh petugas check-in counter dengan menyatakan bahwa seat depan hanya tersisa di posisi tengah. Maksudnya posisi diapit, bukan di jendela atau gang. Posisi seat ini bukanlah seat favorit, karena umumnya penumpang akan merequest posisi seat di gang atau di jendela. Alasannya mungkin sederhana saja, di gang supaya gampang keluar masuk toilet, apalagi buat yang “beser” atau biar cepat turun. Sedangkan posisi di jendela mungkin biar bisa liat pemandangan atau biar nggak terganggu keluar masuknya penumpang di row dia yang hendak ke toilet, karena bisa saja dia mau tidur selama satu setengah jam perjalanan.
Saya kemudian meng-iyakan posisi seat di-apit tersebut. seatnya berkode B atau E, dan itu nggak masalah buat saya. Ternyata saya kemudian mendapatkan satu alasan tambahan kenapa posisi seat di-apit atau di kode B atau E itu bukan seat favorit. Alasan itu adalah ketidak jelasan siapa pemilik handrest atau sandaran tangan yang ada di kanan kirinya. hahahaha.. ini alasan yang jelas mengada-ada.
Tapi itu benar saja rasanya jika hak untuk merasakan nyaman bagi sesama penumpang itu juga berlaku bagi pemilik seat di-apit. Pastinya penumpang semacam saya juga rasanya malas saja kalau harus menempatkan posisi kedua tangan di-apit karena handrest sudah “dibooking” juga oleh penumpang kiri kanan saya yang kebetulan ukuran body-nya tidak kurus. Saya merasakan seperti anak manis yang diapit oleh dua raksasa yang berebut ruang kelegaan dan kenyamanan. Untungnya, saya sering mendapatkan posisi di-apit itu dengan keleluasaan menempatkan kedua tangan saya di hand-rest karena kebetulan tetangga kanan kiri saya cukup berempati. Saya yakin mereka berpikir, “kasihan penumpang sebelah saya, sudahlah susah menikmati pemandangan, keluar masuk mau ke toilet pun susah. ” :)
Kesamaannya menempatkan tangan di handrest itu seperti menempatkan posisi mobil di jalan depan rumah yang kebetulan tidak ada garasinya. Masalahnya bukan mobil kita, tapi mobil temen kita yang kebetulan bertamu di rumah kita. kalau ditempatkan di posisi depan rumah tetangga, saya jamin ia akan bersungut-sungut dan menggerutu tidak senang.
Kesamaannya lagi di lingkungan kerja adalah jika institusi dimana kita bekerja sudah mendapatkan hak remunerasi plus tunjangan kinerja plus premi yang belakangan ini rajin mengucur, sementara instansi samping kanan kiri kita belum. Pastinya mereka akan bersungut-sungut dan menggerutu karena betapa mereka juga sebenarnya berhak mendapatkan hal yang sama.
Berawal dari handrest tadi, bergeser ke bertetanggaan, intinya bisa saja hal-hal yang bisa menimbulkan menggerutu dan bersungut-sungut bisa dikomunikasikan dengan baik.
Posisi handrest tadi, saya biasanya berbagi dengan penumpang kanan kiri saya yang berporsi besar dengan mengambil bagian “agak depan”, sementara biar dia mengambil di bagian belakang. Bersinggungan dikit tidak apalah, asal bukan muhrim.
Posisi tetangga yang ketempatan mobil teman yang bertamu ke rumah kita, biasanya saya akan kulonuwun, permisi dan minta maaf atau membiarkan tamu saya masuk dulu ke rumah saya  dan meminta kunci mobilnya untuk saya tempatkan di tempat yang agak longgar dan pastinya agak jauh dari rumah saya.
Posisi di lingkungan kerja beda institusi ini yang bikin saya bingung. Walhasil, saya hanya bisa berdo’a, mudah-mudahan tetangga institusi ini tidak rewel dengan bersungut-sungut dan menggerutu apalagi sampai “ngampleng”, sementara kita sudah memasang muka manis maksimal.

piss..

dimana-mana barokah

3 Jan

Selama kurang lebih satu setengah tahun lalu di kota kabupaten yang di tahun 2001 pernah terjadi rusuh antar suku, saya banyak menemukan tempat usaha yang punya nama khas. Sepanjang saya menyusuri jalan Soeprapto, jalan Ahmad Yani dan jalan Gatot Subroto, dan jalan Baamang ke arah bandara, ada saja nyempil tempat usaha dengan nama khas, Barokah. Nama khas ini juga sudah sering saya temui sebagai nama tempat usaha pada saat penempatan di Tanjung Perak, Surabaya.
Ini beneran, sepintas seperti nggak ada kreatifnya sama sekali. Nggak warung makan tenda, nggak truk pengangkut barang seken atau rombeng, penginapan, tempat jualan vcd, pendeknya semua jenis usaha diberi label “barokah”. Dan lebih sip-nya lagi, si owner tempat usaha dengan label nama itu ternyata dari satu suku yang sama, saudara saya di seberang jembatan suramadu. Suku yang di tahun yang saya sebutkan di awal itu menjadi pihak yang “terpaksa” terusir dari kota kabupaten Kotawaringin Timur .
Dan sekarang, saat saya sudah mutasi ke Tanjung Priok, label nama itu ternyata tetap ada. Dan masih di sekitar kegiatan usaha yang sama, warung makan tenda, truk pengangkut barang, penginapan, tempat jualan vcd.
Tentu saja pemilihan nama itu bukan suatu kebetulan, dan lebih kepada sebagai sebuah harapan atau do’a. Diberi nama “barokah” mudah-mudahan segala hasil usaha yang diperolehnya juga menjadi barokah.
Dilihat dari KBBI, sebenernya nggak ada rujukan kata “barokah” di bahasa Indonesia. Yang ada kata “berkah” yang diterjemahkan sebagai “karunia Tuhan yg mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia; berkat”. Jadi kata “barokah” sebenernya masih nyuplik bahasa arab aslinya yang di-Indonesiakan menjadi “berkah”.
Klop, pastinya semua orang maunya segala usahanya lewat dunia perniagaan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan dirinya, keluarganya, orang disekitarnya, dan tentu saja bagi kehidupan di akhirat kelak.

imajinasi kardus ala spongebob

20 Dec

Di sebuah episode tayangan yang sudah lama berlalu , spongebob bersama sahabatnya Patrick, berpetualang dalam sebuah kotak kardus. Judul episode ini nyentrik, “idiot box”, dimana petualangan keduanya diawali saat tibanya paket pesanan mereka, televise yang dikemas dalam kardus besar. Setelah kiriman itu diterima dan ditandatangani receipt-nya, alih-alih menurunkan dan menyimpan dengan baik televisinya, si Spongebob malah membuangnya dan justru memanfaatkan kardus besar pembungkus tivi itu sambil bersorak horay. Tindakan stupid yang nggak masuk logika. Tindakan mereka berdua tentu saja dibawah sorotan mata yang tajam dari si tetangga sirik, Squid.
Kegilaan mereka berdua, Spongebob dan Petrik, dimulai. Keduanya mengambil lokasi di sekitar rumah dan nyemplung kedalam kardus bekas tivi tadi.
“kau sudah siap, petrik? Kita akan memulai perjalanan seru ini. Mulailah pejamkan mata dan gunakan imajinasi…”, demikian komando yang terucap dari spongebob saat kardus sudah tertutup rapat dan hanya kegelapan yang menyelimuti.
“aku siap..” , jawab petrik bersemangat
Benar-benar sebuah kegilaan namanya bagi mereka berdua, hingga rupanya sangat mengganggu sang tetangga, squid. Dengan rasa penasaran karena kegaduhan dan kehebohan yang ditimbulkan, ia membuka kardus itu sambil berteriak : “apa yang kalian lakukan?”
“kau mau bergabung dengan kami squid?” ajak spongebob. Tentu saja squid menolak dengan ego yang tinggi. Demikian terjadi terus menerus hingga diapun terbujuk untuk turut serta.
Tapi apa yang terjadi saat squid ikut bertingkah seperti spongebob dan petrik? Nothing happen. Squid tidak bisa menikmati kotak kardus yang sempit dan gelap serta menyesakkan itu seperti layaknya spongebob dan petrik menikmati.
Episode ini seperti menggelitik saya, yang tentu saja tidak ingin mencari kardus besar untuk kemudian nyemplung kedalamnya sambil berfantasi. Saya cuma mengambil analogi sederhana dari kardus yang bisa diibaratkan sebuah kondisi atau keadaan dimana saya saat ini berada. Tentu saja tempat saya berada saat ini terang benderang dipenuhi cahaya dan riuh rendah dipenuhi keramaian orang. Saya berada didalam kardus ini bersama teman-teman yang lainnya.
Saya berfantasi dan berandai-andai secara individual dengan satu tujuan meramaikan suasana “kardus” ini dengan “cara saya sendiri” yang mudah-mudahan tidak mengganggu tetangga kanan kiri karena euphoria “imajinasi kardus” yang saya create sendiri. Tidak gelap dan pengap, tapi terang benderang dan mudah-mudahan menyenangkan.
“kardus” saya analogikan sebagai sebuah kondisi atau keadaan dimana saya berada – bukan trapped- dalam kondisi “wajib militer” – meminjam istilah senior. Kondisi dan keadaan yang jika saya masih ingin berada di “kardus” ini, saya mesti beradaptasi dan menyesuaikan diri. Tetap riang, nrimo dan kerjakan bagian saya. Mudah-mudahan juga tetap tidak gelap dan pengap, tapi terang-benderang dan mudah-mudahan menyenangkan.
“kardus” menurut versi spongebob adalah hanya sarana pencapaian kebahagiaannya. Cara yang dia buat simple saja, “close your eyes, and use your imajination..” ( sambil membentangkan tangan meniru lengkung pelangi )
Yup, pesan sederhana dari Stephen Hillenburg yang bisa saya tangkap adalah bahagia itu kita yang buat.

are you ready..

bersabar di saat musibah dan bersyukur di saat bahagia

3 Sep

“putra njenengan berapa pak?” tanyaku dalam perjalanan naik ojek ke terminal busway Tanjung Priok. “delapan pak”, jawab bapak tukang ojek yang membawaku itu. Sayangnya aku tidak bisa melihat raut muka wajahnya, yang dari nada dan tekanan suaranya saat menyebut jumlah anaknya itu terdengar bangga.
“semua sudah bekerja pak?” tanyaku lagi, dan dijawab “sudah pak, dan sudah pada berkeluarga”. “yang paling kecil aja yang belum nikah dan masih pengin kuliah”, terusnya lagi.
“dari hasil ngojek ini saja pak?”, tanyaku lagi meneruskan jawabannya bahwa ia bisa dengan lancar menafkahi keluarganya. “ya pak, alhamdulillah..” jawabnya bangga.
“ya saya mangkal di depan kantor itu saja pak sejak puluhan tahun lalu,” tambahnya lagi.
“Masya Alloh “, gumamku dalam hati..
Aku tidak bisa bertanya lebih jauh lagi karena sudah sampai di terminal busway. Aku merogoh uang sebagai bayaran ongkos ojek. Saat turun itu sebenarnya aku sudah menanyakan namanya, tapi saat menuangkannya dalam tulisan ini, aku lupa.
Selanjutnya, sepanjang perjalanan di busway itu aku hanya merenungi percakapan singkat dengan bapak tukang ojek tadi. Betapa mesti bersyukurnya aku dengan keadaanku saat ini. Subhanalloh..

Lain waktu..
“putra kulo isin nyebutaken bapakne ngasto nopo wektu ditangleti rencange pak..” ( anak saya malu ngomong apa kerjaan bapanya waktu ditanya temennya pak..), kata pak Gino ke aku di selasar kanan masjid. Percakapan sebelumnya , diawali dengan bahasa Indonesia, tapi kemudian berganti bahasa jawa setelah pak Gino tau asalku dari Tegal sedangkan beliau kelahiran Jogja.
“lho kenapa mesti malu.. mestinya kan dia bangga pak”, jawabku.
“mungkin dia bingung mau bilang ke temennya kalo bapaknya cuma tukang sapu di kantor bea cukai, tapi kok bisa punya rumah. Padahal rumah saya ya sederhana saja pak, yang penting ada tempat ngiyup dan jualan kelontong kecil-kecilan buat istri nambah-nambah uang belanja”, lanjut pak Gino lagi.
“ya mungkin juga pak”, timpalku.
Pak Gino, sosok orang tua yang “hanya” seorang cleaning service di kantor bea cukai di tanjung priok, sudah pasti pembawaannya sederhana saja. Yang penting buatnya lantai bersih dan ruangan yang menjadi wilayah tanggung jawabnya juga rapi dan bersih. Kerjaan yang sudah ditekuninya , juga dari puluhan tahun yang lalu. Sisanya, beliau tetap berharap gaji bulanan dan uang makan yang alhamdulillah menurutnya saat ini bisa berjumlah dua jutaan.
“saya bisa nyekolahkan anak-anak saya ya dari nyapu-nyapu ini pak”, tambahnya lagi dengan raut muka bangga.
Masya Alloh.. dua teladan sederhana di depan mataku adalah sosok nyata, bahwa tidak ada alasan khawatir kecukupan urusan dunia. Semua sudah ditakar dan diurus sesuai dengan porsinya masing-masing. Aku menyimak bahwa khawatir dan takut itu lumrah, dan karena memang demikian adanya sifat manusia. Sisanya adalah bersabar di saat musibah dan bersyukur di saat bahagia.
Tukang ojek depan kantor dan pak Gino yang CS di kantor itu aku yakin pernah merasakan khawatir dan takut akan kecukupan penghasilannya bagi nafkah keluarganya. Aku yakin juga masa-masa sulit pernah melewati mereka.
Tapi keduanya tetap eksis dan bersahaja, dan kuncinya sekali lagi adalah bersabar di saat musibah dan bersyukur di saat bahagia.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 902 other followers