status di bb temen angkatanku yang sudah jadi petinggi humas di instansiku ini sangat menarik perhatianku. posisinya sebagai ujung tombak humas menurutku sangat penting dan aku sendiri sangat apresiasi dengan status itu.
aku lantas membuat penafsiran sendiri atas rangkaian kata ” be good and tell it” ini.
be good, menjadi baik, adalah harapan yang selalu tercetus dalam rangkaian proses reformasi birokrasi di kementerian keuangan. menjadi baik, menjadi lebih baik , dan menjadi yang terbaik dalam jajaran pemerintahan.
tell it, ceritakan, sampaikan, publikasikan.
“waah.. paling deket hubungannya dengan pencitraan.. “
ya, memang deket banget.. tentu saja pencitraan yang positif..
“terus nutupi hal-hal yang negatif gitu?”
ya juga.. hal yang negatif harus ditutupi..
“terus dibiarkan aja yang negatif itu? “
SAMA SEKALI TIDAK…!!!
yang negatif, ya mesti diperbaiki, dibenahi , dan ditata.
“apa sudah dilaksanakan hal itu di lingkungan kementerian kita, kementerian keuangan?”
sudah..
“kok masih belum maksimal ya citranya.. “
thats it.. disinilah poin pentingnya. pasca kita mencoba menjadi baik, sudah menjadi lebih baik, dan menjadi lebih baik lagi, kita mesti “menceritakannya”. apa nggak riya? toh sudah semestinya prinsip pelayanan dari institusi kita memang seharusnya tidak berharap adanya pujian dan ucapan terimakasih?
yup, bener, bukan itu yang semestinya kita harapkan. bukan hanya sekedar ucapan terimakasih dan pujian.
kita mengharap lebih dari itu. kita mengharap self pride, rasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar kementerian keuangan karena kita telah mencoba maksimal menjadi baik dan akan kita ceritakan dengan cara yang baik pula.
be good and tell it, sebuah motto sederhana yang bisa memberi motivasi kepada kita, terutama aku pribadi, untuk tetap berbuat baik dan selebihnya bisa kita tunjukkan kebaikan itu melalui teladan dan menceritakannya dalam bentuk yang baik pula. muaranya adalah kebaikan bersama . semoga.
be good and tell it
11 Marpenjaga amanah
24 Janstatus itu sengaja aku pampang beberapa hari dimulai tanggal 22 Desember kemarin, saat hari itu dirayakan sebagai hari ibu. konon di tanggal itu kita mestinya men-treat istri dan ibu kita ( bersyukurlah bagi yang masih memiliki ibu ) laksana ratu. celakanya, ada teman yang kemudian mengeluarkan joke, “ok, hari ini jadi hari ibu. tapi 364 hari kedepan kembali jadi hari bapak” hahahahaha…
menurutku, men-treat istri atau ibu kita laksana ratu mestinya tidak terbatas hanya di hari ibu. hari-hari selanjutnya setelah hari ibu, mereka juga berhak mendapatkan perlakuan seperti itu. tapi ada juga kekhawatiran, kalau kita , kaum laki-laki men-treat seperti itu terus, bisa dicap susis-meminjam istilahnya Sule- suami sien istri, atau suami takut istri.
nggak ah, kita sudah semestinya memperlakukan istri kita sebagai ratu. kita harus memperlakukan dia ratu di rumah kita sendiri, sebagai penguasa keberlangsungan administrasi kerumahtanggan. seperti layaknya keberlangsungan istana kepresidenan dengan hadirnya sekretaris kepresidenan. atau seperti layaknya keberlangsungan dunia kepengadilan dengan hadirnya kepaniteraan. atau seperti layaknya keberlangsungan dunia politik dimana para anggota dewan duduk ngantor dengan hadirnya sekretaris jenderal DPR.
istri kita , memastikan keberlangsungannya segala hal tetek bengek kerumahtanggaan kita serta yang memastikan berdegupnya jantung rumah tangga dimana kita dan anak kita tinggal didalamnya. menurutku, ia-lah ratu sebenarnya, sang penjaga amanah.
istri kita, bertanggung jawab memastikan bahwa anak-anak kita terjaga dengan baik di rumah disaat kita meninggalkan mereka mencari nafkah yang entah bisa pulang di hari itu, minggu depan, atau bulan depan. menjaga tetap terjaganya asupan gizi untuk tumbuh berkembangnya anak-anak kita sehingga bisa berangkat ke sekolah dan bermain bersama teman-temannya . memberikan pertolongan pertama disaat anak-anak kita butuh bantuan medis ringan disaat jatuh dari sepeda yang mengakibatkan lecet dengkulnya. memastikan bahwa baju yang akan dipakai suaminya bekerja esok pagi telah tersedia dan disetrika dengan rapi, demikian juga dengan baju seragam sekolah anak-anak kita. dan masih terlalu banyak hal lagi yang bisa disebutkan, dan andai ada sebutan lain, maka istri kita layak disebut superwoman.
berbahagialah dan berbanggalah bagi para suami yang memiliki istri yang dengan ikhlas menjadi penjaga amanah. biarlah kita yang bermandi peluh mencari rizki di tengah terik matahari atau merasakan remuk redamnya tulang pinggang karena berlama-lama menekuni pekerjaan administrasi didalam ruangan. biarlah kita yang ikhlas bermandikan hujan dan merasakan pedihnya udara polusi berkendaraan di jalan raya saat berangkat dan pulang kerja dengan sepeda motor atau kendaraan umum atau merasakan pegalnya tumit kaki menahan pedal kopling dan gas secara bergantian tiap meter di tengah jebakan macet di tengah tol.
berbahagialah, karena di rumah telah menunggu sang penjaga amanah yang akan membukakan pintu atas kehadiran kita dengan senyum ikhlasnya.
dan berbahagia dan berbanggalah bagi para istri yang dengan ikhlas menjadi penjaga amanah. insya Alloh surga balasannya.. aamiin..
lelahkah berbuat dan berprasangka baik?
25 NovAku menanyakan kalimat tanya seperti di judul note itu di sebuah kesempatan ceramah yang diisi oleh seorang pejabat struktural yang juga seorang motivator. Aku , dan mungkin di sebagian orang kebanyakan, wajar saja menanyakan hal itu. Bagaimana tidak, dari serangkaian ceramah yang disampaikannya adalah tentang selalu berbuat baik, berpikir positif dan berprasangka baik dalam lingkungan pekerjaan yang note bene akan selalu dipenuhi dengan manusia dari berbagai karakter. Dan wajar juga pertanyaan itu aku sampaikan karena ada saatnya dimana kita sebagai manusia biasa menggerutu perihal perilaku seseorang yang senantiasa kita perlakukan dengan baik tapi mendapatkan feedback sebaliknya. Sering juga kita mengalami bahwa segala kebaikan kadang ditafsirkan terbalik dengan tujuan mulia kita.
Tentu saja dari pertanyaan yang aku ajukan itu, tidak ada jawaban yang sesuai dengan keinginanku, dimana ia akan merasa lelah di suatu ketika, seperti halnya aku, atau beberapa orang lain yang mengalami hal serupa denganku. Jawabannya adalah tetap saja jawaban positif, yang tentu saja menurut pendapatku tidak mungkin dilakukan selain manusia setingkat dewa atau nabi, yang memang didesain Tuhan dengan segunung sabar dan seluas lautan prasangka baik.
Aku tidak mencecarnya lebih jauh, bahkan ketika ada kesempatan bertatap muka berdua selepas acara ceramah itu. Aku lebih mencari dan memilih jawabanku sendiri. Aku lebih memilih tetap memberikan penilaian terbaik kepada beliau dan membiarkan sembari mendoakan agar beliau tetap sperti adanya sekarang, menebar aura positif kepada setiap orang dan kelompok yang ditemuinya langsung maupun melalui media ceramah. Dan aku berdoa mudah-mudahan beliau diberikan kesehatan dan tidak mengenal lelah dan tetap dalam sehat walafiat.
Aku percaya masih banyak juga insan-insan dengan tipikal seperti itu bertebaran di bumi Alloh. Insan yang senantiasa menyeru kepada kebaikan dan tentu saja berbuat kebaikan, dengan tidak mengenal kata lelah. Lelah bagi insan-insan ini hanya akan mengurangi semangat mereka, karena memang demikian teladan yang diterima dari rasul Muhammad SAW. Kelelahan yang hanya mereka harapkan balasannya kelak di akhirat.
Aku kemudian merefresh tentang sejarah kesabaran dan tidak pantang lelahnya Nabi Muhammad SAW ketika di awal kenabian menyampaikan Diinul Islam. Betapa ketika Rasul dilempari batu dan dicaci , seketika malaikat Jibril menawarkan “jasa”-nya untuk memberi pelajaran kepada mereka, ditolak oleh Rasul. “mereka belum tahu tentang kebenaran Diin ini”, demikian jawabnya menolak tawaran malaikat Jibril. Dan hari-hari berikut, tetap dipenuhinya dengan menyampaikan kebaikan dan kebenaran, dan tentu saja aura positif dengan tanpa menyisakan dendam. subhanalloh.. laqod kaana lakum fiirasulillaahi uswatun hasanah.
Bisakah kita meniru Rasul?insya Alloh mestinya bisa.. bismillah..
tidak tahu sakitnya, hanya tahu senangnya
19 NovPerburuan tanaman hias untuk aku tempatkan di ruangan kerjaku yang sudah direnovasi sampai di sebuah tempat penjualan tanaman hias yang letaknya kurang lebih satu kilometer dari kantorku. Saat memasuki tempat penjualan, aku tidak begitu jelas melihat nama dari tempat ini, dan aku rasa memang tidak ada nama yang tertera di pintu masuknya.
Selanjutnya aku bertemu penjualnya , asli jawa yang mengadu nasib di Sampit sudah lama dan bidang usaha yang dipilihnya adalah berjualan tanaman hias. Aku tidak banyak tahu tentang harga tanaman dan hanya penikmat keindahannya. Dan ketika aku menanyakan harga tanaman yang aku ancer-ancer untuk dibeli, terkaget-kaget dengan harga yang disampaikannya. Untuk ukuran tanaman palem biasa yang biasanya banyak tumbuh di jawa, dia tawarkan dengan harga tujuhpuluh lima ribu rupiah perpot. Aku juga kemudian tanaman palem alternatif lainnya yang menurut perkiraanku harganya tidak sampai limapuluh ribu rupiah. Rupanya atas tanaman terakhir yang aku tanyakan tadi, harganya malah mendekati seratus ribu. Aku lantas bergurau dengan ibu yang menjual tanaman hias ini dengan mengatakan betapa besarnya omset dan hasil dari berjualan tanaman ini dengan mengambil sampel dua tanaman yang aku tawar tadi.
Ternyata dia menjawab pernyataanku tentang omset dan hasil penjualan itu dengan senyuman.
Dengan arif, lantas diceritakannya bahwa tidak selamanya usaha berjual tanaman ini mendatangkan hasil menggembirakan, tidak selalu seperti nampaknya sekarang. Ia menceritakan bagaimana suatu ketika dagangan bunganya ini layu dan mati didalam truk yang membawanya dari Jamrud di Tanjung Perak ke Pelabuhan Sampit karena “delay”-nya keberangkatan kapal akibat cuaca buruk. Dihitung-hitung ada sekitar tigapuluh lima jutaan ia merugi karena kejadian itu dan yang lebih menyesakkan, betapa kerugian itu tidak bisa dibebankannya kepada siapapun karena ia tidak mengenal yang namanya asuransi ( atau asuransi juga tidak mau menanggung kerugian karena pengangkutan tanaman ya.. )
Dialog singkat dengan ibu penjual tanaman hias itu mengingatkanku satu hal, betapa kita sering hanya melihat hasil akhir yang dicapai oleh seseorang yang sukses dengan tanpa melihat bagaimana ia-nya berproses. Betapa kita hanya melihat enaknya ia saat ini, dan tidak tahu atau tidak mau tahu sakitnya untuk mencapai tahapan enak itu. Betapa banyak juga orang yang ingin langsung sukses dengan tanpa melalui sakitnya proses yang biasanya dilalui orang untuk menuju sukses itu. Bisakah? bisa saja menurutku, tapi mungkin ia tidak akan setahan banting dengan orang lain yang sudah lebih dulu merasakan jatuh bangunnya meniti sukses.
Rasanya, perlu bagi aku untuk tidak hanya tahu senangnya, tapi juga tahu sakitnya, agar bisa menghargai betapa susahnya meniti jalan menuju pencapaian yang diinginkan.
Rasanya tidak perlu bicara materi, karena pencapaian keberhasilan tiap orang pasti berbeda, meskipun awam bahwa yang menjadi tolok ukur sebuah keberhasilan pencapaian adalah materi.
Bisa jadi seseorang merasa bahagia sekali dengan rumah BTN tipe 45 di kampung dengan kendaraan sepeda motor roda dua seadanya. Bisa jadi seseorang merasa bahagia dengan mendapatkan penghasilan yang hanya cukup makan di hari itu juga, tapi yang penting anak istrinya bahagia. Bisa jadi seseorang merasa bahagia saat ia bisa senantiasa berada di sebelah anak dan istri tercintanya meskipun uang yang ada di dompetnya tidak lebih dari lembaran bergambar Sultan Mahmud Badarudin II.
Mudah-mudahan aku termasuk golongan orang yang pandai bersyukur dan merasa bahagia dengan apa yang telah Alloh berikan. aamiin..
aku iri dengan masa kecilku
19 Nov“Ah, om dulu kecilnya nakal..”, ucapan itu meluncur dari mulut keponakanku suatu ketika. Repotnya, itu disampaikan di hadapan kedua anakku, dimana saat itu kami berkesempatan datang ke Debong Wetan, Tegal, tempat kelahiranku dan menghabiskan masa kanak-kanakku.
Nakal? rasanya tidak. Bahkan masa kecilku termasuk anak baik-baik yang menurutku jauh dari kata nakal versiku. Karena nakal menurutku adalah tidak patuh weling-nya orang tua, tinggal kelas, suka berkelahi, gemar berbohong, suka mengambil yang bukan haknya, atau merokok bahkan nge-lem. wuiih.. Alhamdulillah, didikan bapak ibuku menjauhkanku dari tindakan-tindakan seperti itu.
Aku cukup patuh dengan apa yang diperintah oleh bapak ibuku, aku tidak pernah tinggal kelas bahkan di kelulusan MI-ku bisa dapat NEM tertinggi di Madrasah Ibtida’iyah-ku. Aku juga tidak suka dan tidak bisa berkelahi, takut berbohong serta takut mengambil sesuatu yang bukan hakku. Apalagi merokok dan nge-lem di usia kanak-kanakku, amit-amit.. Buat beli jajan aja susah, apalagi buat beli rokok atau lem Aica Aibon.
Aku tidak tahu persis apa definisi nakal dari sudut pandang keponakanku. Aku juga tidak sadar kalau tingkah lakuku -yang menurutku masih dalam batas kewajaran- dibawah perhatian keponakan-keponakanku. Aku juga bukan termasuk anak yang pandai dalam bidang permainan anak-anak seusiaku seperti permainan kelereng, layang-layang atau permainan lain yang membutuhkan keahlian. Di permainan seperti itu, aku lebih banyak kalahnya.
Yang jelas , di masa kecilku, ruang bermain terbuka sangat luas. Di belakang rumah ada bekas galian bata merah milik tetangga yang kalau musim hujan praktis jadi tempatku memancing ikan gabus. Kalau hasil memancing di belakang rumah itu kurang memuaskan, masih banyak kolam-kolam bekas galian bata lagi di tetangga yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Di halaman depan rumah adalah area bermain lainnya hingga kuburan sebelah rumahpun jadi tempat persembunyian terbaik dalam permainan petak umpet. Rasanya dulu ada banyak jenis permainan yang terus terang saat ini aku kesulitan mengingat nama dari jenis permainan tersebut. Yang jelas, aku ingat betul kalau bermain dengan teman-teman sebayaku itu lebih menarik bagiku dibanding membuka buku pelajaran sekolah . ( Mudah2an kedua anakku tidak membaca tulisanku ini… hehehe..)
Suatu saat, aku dan teman-teman mainku sangat ingin merasakan manisnya tebu, dan itu kalau dibeli sebenarnya bisa saja karena harganya juga sangatlah murah. Tapi entah siapa yang memulai, kami berempat, berjalan kaki menyusuri rel kereta api yang jaraknya tidak sampai satu kilometer dari rumah menuju area perkebunan tebu yang berada di sepanjang kanan kiri rel kereta api hingga kemudian, aku lupa bagaimana caranya, kami bisa naik kereta sampai di stasiun Pangkah. Resiko selanjutnya mudah ditebak dimana kami kemudian diperintahkan oleh kondektur kereta untuk turun di stasiun yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal kami, Desa Debong Wetan. Karena ketidaktahuan kami alur jalan darat, terpaksa jalur kereta apilah yang kami susuri menuju rumah. Dan, mohon maaf, entah karena kekesalan kami atau iseng, kami menempatkan batu-batu kerikil di sepanjang besi rel.
Alhamdulillah, atas ulah iseng kami itu , aku tidak mendengar adanya kejadian apapun di jalur rel yang kami isengi.
Kini, kedua anakku menikmati masa bermain yang bentuk permainannya tentu saja berbeda dengan jamanku kecil dulu, menurutku. Bisa saja waktu kecilku dulu sudah ada rubik, tapi aku tidak tahu karena ketiadaan biaya untuk bisa membelinya. Yang jelas jamanku sedikit sekali permainan yang sifatnya mengisolir diri, jika bermain layangan atau memancing masuk kategori itu. sisanya adalah permainan yang memerlukan kerja sama tim ataupun kompetisi orang perorang dalam satu permainan.
Aku iri dengan masa kecilku. begitu banyak permainan yang bisa menghabiskan waktu belajarku di malam hari dengan gobak sodor, atau congklak di siang hari sepulang sekolah, atau kasti ketika di sekolah.
Aku iri dengan masa kecilku, saat dimana tanah-tanah lapang masih terbentang dan banyak juga pohon-pohon besar tempat kami sembunyi dipermainan petak umpet.
Aku iri dengan masa kecilku, saat dimana masih banyak kolam-kolam luas tempat kami menikmati tarikan ikan “krotong” atau “betik” yang memakan umpan di ujung kail kami.
push to the limit
31 OctDalam sebuah kesempatan mendengar khutbah jum’at di mesjid yang saya lupa namanya, yang letaknya di sebelah kanan setelah pintu keluar gerbang kampus STAN di sisi Bintaro, saya terkesan dengan isi khutbah. Dalam rangkaian khutbah itu, ada satu kalimat nukilan dari al-Qur’an : Al Baqarah ayat 286 :
“La yukallifullahu nafsan illa wus’aha
Laha ma kasabat wa alayha maktasabat”
Alloh tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
Yang menarik adalah pendapat yang disampaikan oleh khatib yang menyatakan bahwa konteks dari ayat ini menurutnya lebih kepada bahwa tidak semestinyalah seseorang menyatakan bahwa beban yang ditanggungnya telah melebihi kapabilitasnya sementara ia sendiri belum melakukan usaha kebaikan hingga titik limitnya. Semestinyalah seseorang mengusahakan kebaikan sebisa mungkin dan mendorongnya hingga batas maksimum yang bisa diusahakannya. Konteks lainnya dari ayat ini sebagaimana disampaikan oleh khatib adalah mengajak segenap jamaah untuk tidak terlalu gampang menyerah dalam mengusahakan kebaikan.
Kebaikan menurut saya itu universal dan tidak mesti terkait dengan hal-hal yang besar dan wow.. Dan dalam rangka mengharap reward pahala atas kebaikan yang kita lakukan itu mesti dibalut dengan keikhlasan, keimanan dan tauhid.
Kebaikan namanya jika kita bisa berbaik dengan tetangga meskipun hal ini sepertinya sepele. Kebaikan juga namanya jika kita menghormati orang lain dan menebarkan salam dan senyum meskipun tidak semua orang perlu tahu bahwa kita tengah menghadapi permasalahan. Kebaikan juga namanya jika kita mau menyingkirkan buruk sangka dan menggunjingkan keburukan orang apalagi itu adalah orang-orang terdekat kita, baik saudara maupun rekan sekerja. Kebaikan lagi namanya juga jika kita bisa senantiasa menyisihkan sebagian dari rizki kita untuk sedekah dan amal jariyah.
Push to the limitnya adalah tetap membaiki dan tidak mengajak berantem tetangga meskipun ia selalu menyakiti kita dengan menyajikan setelan musik kenceng hingga tengah malam saatnya kita istirahat.. hehehe..
Push to the limitnya adalah tetap menghormati dan menebarkan salam dan senyum meskipun itu terhadap orang yang paling kita benci karena pernah menyakiti perasaan kita melalui ucapan dan tindak lakunya. Meskipun juga kita tengah menghadapi permasalahan karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli tiket pulang menjenguk keluarga yang sudah tiga minggu ditinggalkan… xixixi..
Push to the limitnya lagi adalah tetap menutup mulut meskipun kita memegang segudang keburukan atau aib dari orang-orang terdekat kita , baik saudara maupun rekan sekerja. Lebih baik memilih membicarakan hal lain yang tengah jadi topik hangat tentang kekalahan Manchester United dari Chelsea karena banyaknya blunder dari bek ..
Push to the limitnya lagi dan lagi adalah mau menyisihkan bukan hanya sekedar dua setengah persen dari rizki kita untuk disedekahkan dan diamaljariyahkan. sisihkan lebih dari sekedar itu, lima persen, sepuluh persen, atau hingga separuh dari rizki kita untuk kebaikan sedekah dan amal jariyah. Meskipun karena itu kita jadi tidak bisa makan penyetan ayam goreng kampung di warung jawatimuran Ayu Banyuwangi dan hanya sanggup makan penyetan tempe goreng dan telor dadar goreng.. hehehehe…
Bisakah? mudah-mudahan bisa, karena ada janji reward pahala disana sepanjang kita ikhlas melakukannya.. insya Alloh..
aamiin yang tidak sama panjang
31 OctMasih ingat film Sang Pemimpi yang dibuat berdasar novel Andrea Hirata? aku ingat betul adegan saat Aray , Jimbron dan Ikal ikut dalam barisan shaf sholat di musholla. Saat tiba waktunya para makmum menjawab akhir dibacakannya surah Alfatihah, Aray -dengan tipikal anak-anak seusianya- melantunkan lafaz “aamiin” yang jauh lebih panjang dari makmum yang lain. Lantunan lafaz ini bahkan divisualisasikan membuat sang imam mengernyitkan dahi dan hampir saja menoleh untuk mencari tahu siapa gerangan sang makmum yang melafazkan “aamiin” tidak sama panjang.
Adegan di film Sang Pemimpi itu menurutku sebenarnya terjadi lebih karena sifat iseng Aray yang mungkin berniat “do something different” yang mungkin juga tujuannya bisa membuat Ikal atau bahkan makmum lainnya tersenyum.
Potongan adegan seperti terjadi di film Sang Pemimpi itu, bisa saja banyak terjadi dalam cuplikan kehidupan. Bahkan mungkin setiap orang pernah mengalaminya, khususnya bagi mereka yang berani tampil dan menunjukkan kalau ia berbeda dengan kebanyakan. Saat dimana seseorang kemudian berani mengungkapkan pendapat yang berbeda atau bahkan sama sekali berbeda, saat itulah ia seolah telah mengucapkan lafaz “aamiin ” yang tidak sama panjang seperti terjadi di adegan film Sang Pemimpi. Saat itulah bisa saja orang lain menertawakannya, mencibirnya, memandang sinis kepadanya, atau bahkan memarahi dan memusuhinya.
Dalam kaidah sebenarnya, menurutku juga, apa yang dilakukan oleh Aray adalah kurang tepat. Semestinya ia bisa memilih media lain untuk eksis dengan keperbedaannya atau sekedar keisengannya. Tapi, aku juga mafhum bahwa Aray masih anak kecil yang masih banyak membutuhkan bimbingan bagaimana semestinya ia selaku makmum membantu membuat suasana sholat yang khusyuk bagi segenap jamaah, bukan malah sebaliknya.
Menjadi “berbeda” – seolah seperti melantunkan lafaz “aamiin ” yang tidak sama panjang seperti dalam adegan film Sang Pemimpi – seyogyanya ditempatkan dalam situasi yang tepat dan on the track. Menjadi berbeda dalam sebuah lingkungan yang memaksa kita menjadi pusat perhatian, seyogyanya tetap dalam kondisi dimana keperbedaan itu akan menjadi panutan dan terjangkau oleh segenap pemerhati dan tidak menjadikan kita seolah berdiri diatas menara gading.
Betapa sesungguhnya dengan mengangkat tema cerita atas apa yang dilakukan oleh Aray, semestinya ada keberlanjutan yang kongkrit dengan memberikan pemahaman bahwa tindakan berbeda yang dilakukannya adalah kurang tepat dan bukan pada tempatnya. Semestinya sebagai seorang makmum, Aray harus “sama” dengan makmum lainnya dalam melafazkan “aamiin” .